Foto: okezone.com

BMKG Mengungkap Kapan Gerhana Matahari Total Muncul Di Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gerhana matahari total tidak terjadi setiap tahun. Kepala Bidang Potensi Geofisika dan Penanda Waktu Hendra Swarta Suprin mengatakan, rata-rata waktu Greenwich bergantung pada lokasi bulan, bumi, dan matahari.
“Di seluruh dunia tidak bisa dikatakan terjadi setiap tahun karena tergantung posisi bulan, bumi, dan matahari,” kata Hendra kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/12).

Hendra mengatakan, GMT paling awal terjadi pada 2021. Kemudian juga terjadi pada 2023, 2024 dan 2026. Namun, menurutnya, GMT tidak terjadi di lokasi yang sama. Di situs yang sama, dia mengatakan itu akan memakan waktu 350 tahun atau lebih.
Di Indonesia, Hendra mengatakan GMT akan terlihat kembali pada 20 April 2023. Namun, menurutnya lokasinya berbeda dengan GMT di Indonesia pada Maret 2016.
Berdasarkan data tersebut, dia mengindikasikan GMT pada 2023 akan terjadi saat gerhana matahari hibrida (GMH). Situs GMT dan GMH pada tahun 2023 berada di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Dia berkata: “GMH adalah visi gerhana matahari melingkar di suatu wilayah, yang pada saat yang sama merupakan puncak dari gerhana matahari total (GMT) di wilayah atau tempat lain di Bumi.”

Hendra menambahkan, alasan WNI tidak bisa melihat GMT hari ini adalah. Ia mengatakan hal itu terjadi karena jalur Greenwich kali ini tidak melintasi Indonesia. Apalagi Indonesia sudah telat atau sudah terbenam matahari pada GMT kali ini.
LAPAN, GMH akan diluncurkan pada 20 April 2023. Lokasi saksi GMH ada di NTT dan Papua. Sedangkan Greenwich Mean Time dapat dilihat kembali di Indonesia pada tanggal 20 April 2042. Situs-situs untuk melihat GMT di Indonesia pada saat itu berada di Sumatera dan Kalimantan.

Dan Lapan menjelaskan bahwa Greenwich Mean Time terjadi ketika bulan menutupi seluruh piringan matahari sehingga korona matahari dapat terlihat pada ketinggian Greenwich Mean Time.

Sedangkan GMH adalah gerhana yang sebagian pengamat bisa melihat di antara GMT dan sebagian pengamat lainnya sebagai GMC.

Lapan menulis: “Gerhana campuran seperti ini sangat jarang.”